Sponsors Link

9 Tes Mengukur Kerusakan Ginjal Serta Deteksi Kelainan

Sponsors Link

Ginjal yang sehat tentunya bisa berfungsi sebagai pembuang limbah dan juga cairan berlebih dalam darah. Tes darah untuk penyakit ginjal dan juga tes urine bisa menunjukkan seberapa baik organ ginjal bisa bekerja. Tes urine bisa memperlihatkan seberapa cepat limbah yang ada dalam tubuh bisa dibersihkan dan apakah terjadi kebocoran protein tidak normal dalam ginjal. Berikut ini akan kami jelaskan tes mengukur kerusakan ginjal dan juga deteksi lainnya yang sangat penting untuk diketahui.

ads
  1. Serum Kreatinin

Kreatinin merupakan produk limbah yang berasal dari dan juga keausan normal pada otot dalam tubuh. Kadar kreatinin dalam darah juga sangat bervariasi yang tergantung dari usia, ras dan juga ukuran tubuh. Tingkat kreatinin pada perempuan yang lebih besar dari 1.2 dan 1.4 untuk pria mungkin menjadi tanda tanda awal jika seseorang sedang mengalami penyakit ginjal sebagai akibat kreatinin tinggi.

  1. Glomerular Filtration Rate [GFR]

Ini merupakan tes ukuran untuk melihat seberapa baik bagian organ ginjal bisa membuang limbah dan juga cairan berlebih dalam darah. Tes mengukur kerusakan ginjal ini bisa dihitung dari tingkat serum kreatinin berdasarkan usia, berat badan, jenis kelamin dan juga ukuran tubuh. GFR normal juga bisa bervariasi menurut umur dimana seiring bertambahnya usia akan membuat nilainya menurun. Untuk nilai normal GFR adalah 90 atau lebih. Sedangkan GFR di bawah 60 merupakan tanda jika kerja ginjal tidak berjalan dengan baik. GFR di bawah 15 mengartikan jika pengobatan untuk gagal ginjal seperti dialisis atau transplantasi ginjal sudah harus dilakukan.

  1. Nitrogen Urea Darah

Nitrogen urea berasal dari pemecahan protein pada makanan yang dikonsumsi. Tingkat NUD normal berada di antara 7 sampai 20. Dengan semakin menurunnya fungsi ginjal, maka tingkat NUD juga akan meningkat.

  1. USG

Tes USG ini dilakukan dengan memakai gelombang suara agar bisa memperoleh gambar dari ginjal. Tes ini bisa dipakai untuk melihat apakah terjadi kelainan di ukuran atau posisi ginjal atau hambatan seperti adanya batu ginjal atau tumor.

  1. CT Scan

Teknik pencitraan ini memakai pewarna kontras agar bisa memberikan gambaran organ ginjal. Tes ini juga bisa dipakai untuk mencari kelainan struktural serta adanya penghalang pada ginjal.

  1. Biopsi Ginjal

Biopsi bisa dilakukan sesekali untuk beberapa alasan medis, diantaranya adalah:

  • Untuk identifikasi proses penyakit tertentu dan untuk melihat apakah bisa tanggap terhadap pengobatan.
  • Untuk evaluasi jumlah kerusakan yang sudah terjadi pada ginjal.
  • Untuk melihat dan mencari tahu kenapa transplantasi ginjal tidak bisa bekerja secara baik.

Biopsi ginjal akan dilakukan dengan memakai jarum tipis serta ujung yang tajam untuk mengiris potongan kecil jaringan ginjal agar bisa diperiksa menggunakan mikroskop.

  1. Tes Urine

Dalam tes urine biasanya hanya memerlukan beberapa sendok makan air seni. Namun untuk beberapa tes juga membutuhkan semua urin yang diproduksi selama 24 jam penuh. Tes urine selama 24 jam akan memperlihatkan seberapa banyak urin yang dihasilkan oleh ginjal dalam satu hari. Tes ini juga bisa memberikan ukuran akurat mengenai penyebab adanya protein dalam urine dari ginjal ke dalam urin dalam satu hari. 

Sponsors Link

  1. Urinalisis

Urinalisis termasuk dalam pemeriksaan mikroskopis dari sampel urin dan juga uji dipstick. Dipstick merupakan strip yang diolah secara kimia untuk dicelupkan dalam sampel urin. Strip tersebut nantinya akan berubah warna ketika terjadi kelainan seperti jumlah protein, nanah, darah, gula dan bakteri yang berlebihan. Urinalisis akan membantu untuk deteksi banyak gangguan ginjal serta gangguan saluran kemih termasuk penyakit ginjal kronis, penyakit infeksi kandung kemih, diabetes dan juga batu ginjal.

  1. Protein Urin

Tes ini bisa dilakukan sebagai bagian dari tes urine atau tes dipstick terpisah. Jumlah protein dalam urin yang berlebihan disebut dengan proteinuria. Tes dipstick positif yakni 1+ atau lebih besar harus dikonfirmasi dengan tes dipstick agar hasilnya bisa lebih spesifik dan juga beberapa tes lain seperti tes dipstick spesifik albumin atau pengukuran kuantitatif seperti rasio kreatinin albumin.

Sponsors Link
>
, , , ,
Oleh :
Kategori : Tips