Sponsors Link

2 Penyebab Transplantasi Ginjal Tidak Sukses Dilakukan

Sponsors Link

Transplantasi ginjal yang sudah dilakukan sejak lama tentunya sudah mengalami banyak sekali peningkatan hingga saat ini khususnya 10 tahun terakhir dimana perkembangan suksesnya transplantasi ginjal sudah meningkat dengan pesat. Dari data terakhir yang didapat memperlihatkan jika 97% ginjal yang didonorkan sudah berfungsi di bulan pertama, 93% untuk tahun pertama dan 83% untuk 3 tahun pertama. Akan tetapi dari data tersebut juga terlihat jika sesudah 3 tahun, maka 16% dari transplantasi ginjal terbukti tidak sukses dilakukan.

ads

Ada banyak alasan yang menjadi penyebab transplantasi ginjal tidak sukses dilakukan seperti yang paling utama adalah tubuh penerima transplantasi ginjal menolak ginjal yang baru didonorkan tersebut meskipun biaya transplantasi ginjal sangatlah mahal. Ini bisa terjadi karena sistem imun penerima transplantasi ginjal mendeteksi benda asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyerang ginjal baru tersebut.

Jenis Penolakan Ginjal

Jenis penolakan atau gagalnya transplantasi ginjal terdiri dari dua jenis yakni penolakan akut dan juga penolakan kronis. Penolakan akut merupakan jenis penolakan tubuh yang terjadi sekitar 1 tahun sesudah operasi transplantasi ginjal. Sedangkan untuk penolakan kronis biasanya terjadi bertahun tahun sesudah operasi transplantasi ginjal dilakukan meski pantangan transplantasi ginjal sudah dilakukan.

Penolakan akut umumnya bisa diatasi dengan meningkatkan dosis obat penekan sistem imun yakni mengontrol sistem imun agar tidak menyerang organ ginjal yang baru tersebut. Sementara untuk penolakan kronis umumnya tidak bisa diobati sehingga pasien dipastikan akan kehilangan organ ginjal yang baru tersebut. Hingga saat ini, penolakan akut dan juga penolakan kronis masih dianggap 2 jenis penyakit yang berbeda. Namun dalam penelitian lain diperlihatkan jika penolakan akut dan penolakan kronis sebenarnya bukan merupakan penyakit yang berbeda karena disebabkan karena faktor yang sama.

Perkembangan Penolakan Akut ke Kronis

Metode gene expression profilling digunakan para peneliti untuk melihat aktivitas selama penolakan akut dan penolakan kronis sedang berlangsung. Metode ini bisa memberikan data bagi para peneliti untuk membandingkan aktivitas banyak gen secara bersamaan sehingga persamaan dan perbedaan pada gen pasien yang mengalami penolakan akut dan penolakan kronis serta yang sehat bisa ditentukan secara bersamaan.

Peneliti melibatkan 234 pasien transplantasi ginjal untuk melakukan biopsi ginjal. Hasilnya memperlihatkan jika 80% gen yang diekspresikan penolakan akut juga diekspresikan pada jaringan yang terlibat dalam penolakan kronis sehingga kedua penyakit tersebut sebenarnya disebabkan karena hal yang sama.

Perbedaannya adalah pada kasus gangguan ginjal yakni penolakan kronis umumnya dokter akan mengurangi dosis obat penahan sistem imun sesudah tahun pertama yang disebabkan karena kandungan racun dalam obat tersebut. Ini mengakibatkan tingkat penahan sistem imun akan menurun hingga sistem imun bisa melawan ginjal baru kembali meski sebenarnya racun dari obat bisa ditepis sistem imun dari ginjal yang baru. 

Sponsors Link

Dengan penelitian baru tersebut, maka harapan baru tentang pengobatan penolakan kronis  proses transplantasi ginjal muncul kembali. Pengobatan yang dipakai untuk mengobati penolakan akut juga bisa diterapkan untuk penolakan kronis sebab pada kenyataannya kedua penyakit ini sebenarnya merupakan penyakit yang sama.

Cara Melihat Transplantasi Ginjal Tidak Sukses

Penolakan kronis mempunyai mekanisme yang serupa dengan sel kanker sebab penyakit bisa menyebar secara perlahan tanpa terdeteksi hingga ciri ciri penyakit ginjal yang baru terjadi. Namun dalam penelitian sudah ditemukan jika metode baru untuk deteksi ginjal baru tidak sukses sebelum mencapai masalah serius. 

Sponsors Link

Metode untuk melihat penyebab transplantasi ginjal tidak sukses ini memanfaatkan luka fibrosis intestisial atrofi atau IFTA dimana tanda tanda ginjal rusak berupa luka ginjal tersebut sebelumnya dikaitkan dengan meningkatnya risiko penolakan transplantasi ginjal namun bukan pada penolakan yang sedang terjadi. Namun dalam penelitian tersebut, para peneliti memperlihatkan jika luka IFTA tidak hanya menjadi tanda dari luka sebelumnya namun juga menjadi tanda dari proses penolakan tubuh yang sedang terjadi. Luka IFTA memang jarang diobati sebelumnya, namun sesudah penelitian dilakukan, maka tim medis akhirnya mempertimbangkan kembali untuk mengobati luka tersebut.

Biopsi dianjurkan para peneliti dilakukan secara berkala sehingga bisa membantu untuk melihat tanda awal dari penolakan akut dan penolakan kronis. Aktivitas seluler pada tubuh dengan tes darah juga dianjurkan untuk mencegah dilakukannya biopsi berulang kali sehingga tim medis juga bisa mengukur respons imun tubuh dan kerja obat penahan sistem imun kapan pun dibutuhkan.

Sponsors Link
>
, , ,
Oleh :
Kategori : Pengobatan