Sponsors Link

Apakah Sebenarnya Penyakit Nokturia?

Sponsors Link

Penyakit nokturia atau noctural polyuria merupakan istilah medis untuk buang air kecil berlebih saat malam hari dimana ketika tidur, maka tubuh akan menghasilkan urin yang lebih kental. Ini mengartikan pada orang orang yang sehat sebetulnya tidak harus bangun tengah malam hanya untuk buang air kecil dan bisa tidur selama 6 hingga 8 jam tanpa diganggu rasa ingin kencing. Apabila seseorang sampai terbangun beberapa kali di malam hari hanya untuk buang air kecil, maka ini bisa dikatakan nokturia yang sangat mengganggu dan menjadi pertanda kondisi medis tertentu.

ads

Seberapa Umum Nokturia?

Penyakit nokturia atau sering buang air kecil malam hari sangat umum terjadi dan bisa menimpa pada usia berapa saja. Penyakit nokturia ini bisa diatasi dengan mengurangi beberaoa faktor risiko dan sebaiknya didiskusikan dengan dokter supaya bisa mendapatkan informasi lebih lanjut.

Tanda dan Gejala Nokturia

Biasanya, seseorang yang normal bisa tidur selama 6 hingga 8 jam ketika malam tanpa perlu bangun untuk ke toilet. Namun seseorang yang menderita nokturia atau sering kencing dan haus akan bangun lebih dari satu kali ketika malam hari hanya untuk buang air kecil yang tentunya bisa menyebabkan siklus tidur normal jadi terganggu. Jika memang ada tanda dan gejala selain yang sudah disebutkan dan membuat anda khawatir, maka sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter.

Kapan Harus Diperiksa?

Apabila anda mengalami beberapa tanda dan gejala dan tanda diatas atau ada pertanyaan lainnya, maka sebaiknya segera dikonsultasikan dengan dokter sebab masing masing tubuh orang sangatlah berbeda.

Penyebab Nokturia

Nokturia disebabkan karena pilihan gaya hidup hingga kondisi medis tertentu. Nokturia paling umum dialami oleh lansia akan tetapi juga bisa terjadi pada segala usia. Beberapa kondisi medis juga bisa menyebabkan nokturia seperti salah satunya adalah penyakit infeksi saluran kemih. Infeksi ini bisa menyebabkan sensasi seperti terbakar dan ingin buang air terus menerus siang dan malam yang biasanya membutuhkan perawatan antibiotik. Selain itu, ada beberapa kondisi medis lainnya yang bisa menyebabkan nokturia, seperti:

  • Infeksi atau pembesaran prostat.
  • Gejala kandung kemih turun.
  • Gejala kandung kemih overaktif.
  • Terdapat tumor pada kandung kemih, area pelvis atau prostat.
  • Kegelisahan.
  • Diabetes.
  • Ciri ciri infeksi ginjal.
  • Edema atau pembengkakan pada bagian kaki bawah.
  • Penyakit neurologis seperti multiple sclerosis atau MS, parkinson’s disease atau kompresi saraf tulang belakang.
  • Nokturia sangat umum terjadi pada beberapa orang yang mengalami kegagalan organ umum seperti gagal hati, gagal jantung atau pada penderita diabetes.
  • Masa kehamilan: Nokturia menjadi gejala awal dari masa kehamilan di awal kehamilan akan tetapi lebih umum terjadi ketika rahim menekan kandung kemih sehingga kandung kemih cepat penuh.
  • Sleep apnea: Nokturia bisa menjadi gejala obstructive sleep apnea yang bisa terjadi meski kandung kemih belum penuh dan begitu sleep apnea bisa dikendalikan, maka nokturia juga bisa hilang.
  • Efek samping obat obatan: Beberapa pengobatan juga bisa menyebabkan nokturia sebagai efek samping khususnya efek samping dari diuretik atau water pills yang diberikan untuk penderita tekanan darah tinggi.
  • Gaya hidup: Gaya hidup juga menjadi penyebab umum dari nokturia yakni mengkonsumsi air terlalu berlebihan termasuk juga alkohol dan minuman mengandung kafein yang bersifat diuretik sehingga menyebabkan produksi urin meningkat.

Faktor Risiko Nokturia

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang semakin berpeluang mengalami nokturia dan mempercepat proses pembentukan urine, beberapa faktor risiko nokturia diantaranya adalah: 

Sponsors Link

  • Usia: Lansia lebih cenderung bisa mengalami penyakit nokturia.
  • Peredaran: Mengalami gagal jantung kongestif yang menyebabkan cairan edema menumpuk pada jaringan ketika siang hari sehingga gagal jantung bisa meningkatkan risiko buang air kecil saat malam hari.
  • Lingkungan atau toksisitas: Mercury toxicity.
  • Hormon: Hyperparathyriodism.
  • Kesehatan organ: Pembesaran prostat atau diabetes tipe 2.
  • Pernapasan: Obstructive sleep apnea.
  • Tumor jinak: Fibroid yang bisa menyebabkan meningkatnya frekuensi buang air kecil saat malam hari.
  • Tumor ganas: Kanker prostat.

Sponsors Link
>
, , , ,