Sponsors Link

Hipertensi Sekunder : Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan

Sponsors Link

Hipertensi sekunder merupakan sebuah kondisi dimana tekanan darah menjadi tinggi yang disebabkan oleh efek samping dari penyakit lainnya, seperti penyakit ginjal, gangguan pada pembuluh darah, penyakit jantung, atau gangguan pada sistem endokrin. Tekanan darah tinggi sekunder bisa juga terjadi pada ibu hamil saat masa kehamilan. Tekanan darah tinggi jenis ini membutuhkan penanganan sejak awal. Tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya komplikasi penyakit yang lebih parah, misalnya stroke, Gagal ginjal kronis , atau serangan jantung.

ads

Gejala

Seseorang yang menderita hipertensi sekunder ini bisa mengalami gejala tekanan darah tinggi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini ada beberapa penjelasan mengenai gejala dari kondisi ini.

  • Hipertensi resisten – Hipertenai resisten merupakan salah satu kondisi di mana tekanan darah menjadi tinggi dan tidak bisa diatasi dengan obat hipertensi, maupun obat kombinasi hipertensi. Tekanan darah resiaten ini berada di atas angka 140 / 90 mm Hg.
  • Tekanan darah yang sangat tinggi – Penderita penyakit ini juga bisa mengalami tekanan darah yang sangat tinggi, yaitu di atas 180 / 120 mm Hg. Tekanan darah tinggi tersebut bisa terjadi pada seseorang walau tidak ada riwayat hipertensi di dalam keluarga.
  • Serangan hipertensi yang bisa sangat mendadak, bahkan di usia muda (sebelum usia 30 tahun) atau di usia lanjut (di atas 55 tahun).
  • Muncul juga gejala penyakit lain yang berkaitan dengan penyebab dari tekanan darah tinggi sekunder tersebut.

Penyebab

Pada umumnya, kebanyakan kasus hipertenau atau tekanan darah tinggi tidak diketahui penyebab pastinya. Sedangkan yang masuk dalam kategori hipertensi sekunder hanyalah kurang lebih 10 persen. Penyebab ga berkaitab dengan hormon yang berubah akibat beberapa penyakit tertentu. Misalnya beberapa penyakit di bawah ini.

  • Penyakit ginjal – Memang ada Hubungan Gagal Ginjal dan Hipertensi yang perlu diketahui, yaitu jika organ ginjal mengalami gangguan yang ditandai dengan aliran darah menuju ginjal yang terganggu, maka ginjal akan mengeluarkan hormon renin. Hormon renin inilah yang bisa memicu tekanan darah tinggi sekunder.
  • Pheochromocytoma – Pheochromocytoma merupakan penyakit tumor yang berada pada kelenjar adrenal. Kondisi ini bisa memicu produkai hormon adrenalin atau hormon epinefrin dan juga hormon nonadrenalin atau hormon nonepinefrin berlebihan. Dan kondisi ini bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
  • Hiperaldosteronisme (sindrom Conn) – Kondisi ini juga bisa menyebabkan kelenjar adrenal memicu produksi hormon aldosteron sehingga bisa menghambat keluarnya garam dari tubuh. Jika kadar garam di tubuh meningkat, maka hipertensi bisa terjadi.
  • Hiperkortisolisme (sindrom Cushing) – Kondisi ini juga bisa merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon kortisol berlebihan. Hal ini bisa terjadi jika seseorang menderita tumor pada kelenjar adrenal, baik yang ganas maupun yang jinak. Akibatnya, tekanan darah bisa meningkat.
  • Hiperparatiroidisme – Kondisi ini bisa menjngkatkan produksi dari hormon paratiroid. Hormon paratiroid bisa meningkatkan kadar kalsium. Dan sebagian besar dari oenderita hiperparatiroidisme mengalami hipertensi, walau penyebabnya belum jelas.
Sponsors Link

Itulah beberapa penyakit yang bisa menyebabkan kondisi tekanan darah tinggi sekunder. Selain itu, ada beberapa faktor risiko atau pemicu lain yang bisa menyebabkan kondisi tersebut. Berikut beberapa yang dimaksud.

  • Diabetes nefropati atau Nefropati Diabetik – komplikasi dari diabetes yang bisa mengganggu ginjal.
  • Penyakit glomerular – adanya kerusakan atau pembengkakan pada penyaring ginjal.
  • Hipertensi renovaskular – tekanan darah tinggi dikarenakan arteri menuju ginjal menyempit. Kondisi inilah yang juga menjadi alasan Kenapa Hipertensi Bisa Menyebabkan Gagal Ginjal
  • Koarktasi aorta – adanya penyempitan pada pembuluh darah aorta yang merupakan bawaan lahir.
  • Kehamilan – Ibu hamil yang memiliki riwayat preeklampsia.
  • Sleep apnea – gangguan tidur yang disebabkan oleh kerusakan dinding pembuluh darah.
  • Obesitas – meningkatkan risiko daei gangguan tekanan darah tinggi.
  • Obat-obatan – beberapa jenis obat-obatan tertentu juga bisa menyebabkan kondisi hipertensi.
  • Transplantasi organ – perlakuan medis transplantasi ginjal juga bisa menyebabkan kondisi tekanan darah tinggi sekunder.
ads

Diagnosis

Diagnosis pada penyakit hipertensi sekunder perlu dilakukan dengan melakukan beberapa kali tes. Hal ini perlu dilakukan untuk membedakan hipertensi primer dan sekunder. Maka dari itu, informasi mengenai riwayat kesehatan dari pasien perlu dilakukan. Beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain.

  • Tes darah – dilakukan untuk memeriksa senyawa atau kandungan dalam darah, seperti kadar gula, kalsium, kreatinin, sodium, kolesterol, dan nitrogen urea.
  • Tes urine – dilakukan untuk memeriksa senyawa di dalam urine, serta riwayat penyakit yang diduga menciptakan kondisi tekanan darah tinggi.
  • Ultrasonografi – dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai ginjal dan pembuluh darah di sekitarnya dengan menggunakan gelombang suara.
  • Elektrokardiogram – dilakukan untuk pemeriksaan fungsi jantung dan potensi gangguan jantung yang dikhawatirkan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.

Pengobatan Hipertensi Sekunder

Kondisi hipertensi sekunder bisa diatasi dengan mengendalikan penyebabnya. Jika penyebabnya adalah gangguan ginjal, maka penyakit itu perlu diatasi. Demikian pula jika penyebabnya adalah gangguan jantung. Selain itu obat-obatan juga bisa dipergunakan untuk pertimbangan pengobatan. Jika tidak bisa mengatasinya, maka operasi bisa dilakukan. Beberapa jenjs obat yang dimaksud antara lain sebagai berikut.

  • Obat diuretik golongan thiazide untuk gangguan atau Kelainan Ginjal
  • Obat penghambat saluran kalsium (calcium channel blocker) untuk memperlambat denyut jantung.
  • Obat penghambat beta (beta blockers) untuk menurunkan kecepatan dari denyut jantung dan memperlebar pembuluh darah.
  • Obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitors)
  • Obat penghambat reseptor angiotensin II (angiotensin II receptor blockers)
  • Obat penghambat renin (direct renin inhibitors) untuk menghambat hormon renin yang dihasilkan oleh gangguan ginjal.
  • Obat penghambat alfa (alpha blocker) untuk memperlambat kontraksi pada pembuluh darah.

Kondisi hipertensi ini perlu untuk ditangani dengan cara yang tepat. Jika tidak, maka kondisi ini bisa memicu komplikasi yang lebih parah. Di antara komplikasi dari tekanan darah tinggi sekunder antara lain:

  • Penurunan fungsi otak
  • Gagal jantung
  • Kerusakan pembuluh darah
  • Penyempitan arteri di ginjal
Sponsors Link

Pencegahan

Pencegahan terhadap hipertensi sekunder perlu dilakukan dengan cara menghindari penyebabnya. Penyebab penyakit ini bisa dicegah dengan menurunkan risikonya, yaitu dengan melakukan pola hidup sehat, seperti:

  • Mengatur pola makan
  • Menghindari makanan instan, seperti makanan kaleng atau makanan beku
  • Mengurangi asupan garam
  • Mengonsumsi kacang-kacangan, susu rendah lemak, dan makanan sehat
  • Mengendalikan berat badan
  • Melakukan aktivitas fisik secara rutin
  • Menghindari merokok
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol
  • Menghindari stres berlebih

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai penyakit hipertensi sekunder yang merupakan hasil komplikasi dari sejumlah penyakit pada tubuh. Untuk mencegahnya, lakukan selalu pola hidup sehat. Segera berobatlah ke dokter jika ada gejala penyakit tertentu untuk menghindari komplikasi. Semoga artikel ini bermanfaat.

Sponsors Link
>
, , , ,