Sponsors Link

Informasi Seputar Ginjal Tunggal

Sponsors Link

Pada saat seseorang hanya mempunyai satu buah ginjal atau hanya satu ginjal saja yang bekerja, maka organ ginjal tersebut dinamakan dengan ginjal tunggal. Ada beberapa penyebab utama dari ginjal tunggal sehingga sebisa mungkin harus dipantau untuk mencegah terjadinya kerusakan ginjal. Sebagai tambahan informasi, berikut kami punya ulasan tentang ginjal tunggal yang harus anda ketahui lengkap dengan bahaya hidup dengan satu ginjal.

Penyebab Ginjal Tunggal

Ada beberapa penyebab utama dari seseorang mengalami ginjal tunggal yakni karena cacat lahir, melakukan operasi pengangkatan ginjal, menolong untuk seseorang yang mencari donor ginjal dan beberapa penyebab lainnya.

1. Cacat Lahir

Seseorang dengan agenesis ginjal lahir dengan satu ginjal, dimana orang yang terlahir dengan displasia ginjal akan memiliki kedua buah organ ginjal, akan tetapi salah satu fungsi ginjal tidak bisa bekerja. Banyak orang dengan agenesis ginjal atau displasia ginjal tidak menyadari jika mereka hanya memiliki satu ginjal saja hingga nantinya melakukan sinar X USG atau operasi untuk kondisi yang tidak berhubungan.

2. Operasi Pengangkatan Ginjal

Beberapa orang harus melakukan pengangkatan ginjal dengan tujuan untuk mengobati kanker dan juga penyakit lain atau cedera. Pada saat ginjal diangkat lewat pembedahan akibat penyakit atau untuk sumbangan, maka baik ginjal dan juga ureter akan diangkat.

3. Donor Ginjal

Ada begitu banyak alasan mengapa seseorang mendonorkan salah satu ginjal yang dimiliki meski ada efek samping donor ginjal. Namun alasan paling umum adalah untuk diberikan pada anggota keluarga atau teman terdekat yang mengalami gagal ginjal dan sangat membutuhkan transplantasi ginjal. Untuk itulah akhirnya seseorang bisa memiliki ginjal tunggal karena sudah melakukan transplantasi ginjal.

Apa Harus Selalu Dipantau?

Seseorang dengan ginjal tunggal harus selalu diperiksa dengan teratur untuk menghindari risiko beberapa macam penyakit seperti albuminuria, penurunan laju filtrasi glomerulus [GFRI] dan juga tekanan darah tinggi.

1. Pengujian Albuminuria

Albuminuria merupakan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan protein albumin dalam urin. Albumin berfungsi seperti spons, menarik cairan dari tubuh ke dalam aliran darah yang kemudian akan dikeluarkan oleh ginjal. Pada saat albumin bocor ke dalam urin, maka darah akan kehilangan kemampuan untuk menyerap cairan ekstra dari tubuh. Meski peningkatan albumin dalam urin mungkin juga tidak menyebabkan gejala apapun, akan tetapi sering memperlihatkan risiko peningkatan penyakit ginjal.

2. Tes Dipstick untuk Albumin

Adanya albumin dalam urin bisa dideteksi dengan memakai tes dipstick yang dilakukan pada sampel urin. Sampel urin akan dikumpulkan dalam wadah khusus di tempat penyedia layanan kesehatan dan bisa juga diuji pada lokasi yang sama atau dikirim ke laboratorium untuk analisis. Dengan melakukan tes dipstick, perawat nantinya akan menempatkan sebuah strip kertas yang diolah secara kimia bernama dipstick ke sampel urin pasien. Perubahan warna nantinya akan terjadi pada dipstick pada saat terlihat penyebab adanya protein dalam urin.

3. Albumin dan Pengukuran Kreatinin

Pengukuran yang lebih tepat umumnya dibutuhkan untuk konfirmasi albuminuria. Sebuah sampel urin tunggal atau urin yang dikumpulkan selama 24 jam akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Dengan sampel tunggal urin, laboratorium akan mengukur albumin dan kreatinin serta produk limbah dari kerusakan otot normal. Hasilnya kemudian akan dilaporkan sebagai rasion urin albumin kreatinin. Sampel urin yang mengandung lebih dari 30 mg albumin untuk setiap gram kreatinin mungkin menjadi pertanda adanya masalah. Pada pengumpulan urin yang dilakukan selama 24 jam, lab hanya mengukur jumlah albumin yang ada. Meski kedua tes tersebut terbilang efektif, akan tetapi sampel urin tunggal lebih mudah dikumpulkan dibandingkan dengan pengumpulan sampel 24 jam serta umumnya sudah cukup untuk mendiagnosis dan memantau ciri ciri penyakit ginjal.

4. Penurunan Pada Pengujian GFR

Darah nantinya akan diambil di tempat penyedia layanan kesehatan kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisa dan bisa diuji untuk memperkirakan banyak darah yang disaring bagian organ ginjal setiap menit yang disebut dengan laju filtrasi glomerulus [eGFR]. Hasil tes nantinya akan memperlihatkan beberapa hal, yakni:

  • eGFR 60 atau di atas adalah masih dalam kisaran normal.
  • eGFR di bawah 60, maka mengindikasikan kerusakan ginjal.
  • eGFR 15 tidak terlalu memungkinkan menunjukkan gagal ginjal kronis.
Sponsors Link
>
, ,